Dolar Pertamaku Dari Internet

March 27th, 2008 by givshand

Dari berbagai macam cara untuk mendapatkan uang dari internet, satu yang pertama kali kucoba untuk membuktikannya adalah dengan melakukan Ulasan Berbayar (Paid Review). Mungkin ada yang bertanya - tanya, apa itu Paid Review? Akan kucoba menjelaskan sedikit.

Paid Review adalah ketika kita menulis tentang website lain di blog kita, dan website lain itu membayar kita untuk tulisan kita tersebut. Biasanya ini dilakukan melalui perantara yang sudah terpercaya, terutama bila blog tempat kita menulis Review atau ulasan tersebut adalah blog yang masih baru dengan jumlah pembaca yang sedikit.

Ketika blog kita masih sedikit pembacanya dan juga mempunyai Alexa Rank dan Google Page Rank yang rendah, maka bayaran tiap review mungkin hanya sekitar 5 - 10 dolar. Tapi untuk website yang mempunyai ribuan, belasan atau bahkan puluhan ribu pembaca, satu reviewnya bisa menghasilkan sampai ratusan dolar.

Paid review adalah salah satu cara, masih banyak lagi cara lain untuk mendapat uang dari internet. Ketekunan, kerja keras, keinginan untuk belajar adalah syarat - syaratnya. Harapanku suatu hari aku bisa bekerja dari rumah dan tidak perlu bekerja kantoran lagi. Salah satu cara dengan membuat blog ku berikut ini yang baru saja memberiku 20 dolar pertamaku dari internet.

Lain waktu akan kuceritakan lebih banyak lagi tentang usahaku mencari dolar di internet. Ciao!

Website Baruku

February 22nd, 2008 by givshand

Sudah lama juga ngga posting di Friendster Blog ini. Disamping malas, juga karena tidak ada ‘insentif’ nya. Hehehe.

Sekarang saya punya blog dengan alamat berupa nama sendiri. Kenapa tiba - tiba jadi pingin buat blog dengan nama sendiri? Bisa dibilang karena dapat pencerahan. Kebetulan sekitar 3 minggu yang lalu saya kebetulan mampir ke website seseorang, di mana orang itu ternyata bisa mendapatkan penghasilan melalui Blognya.

Gimana caranya? Dengan melakukan Paid Review, salah satunya. Apa itu Paid Review? Jadi ada perusahaan atau website komersil lain yang membayar kita untuk mempost artikel tentang website / produk mereka di Blog kita. Awalnya kalau baru mulai, mungkin satu Post hanya dibayar $5. Tapi kalau yang sudah punya reputasi baik, dan websitenya banyak dikunjungi orang, bisa dapat $100 sekali review.

Itu hanya salah satu cara. Banyak sekali cara2 lain, yang mungkin sudah pernah kita dengar, seperti : affiliate marketing, google adsense, google adwords. Ternyata banyak orang Indonesia yang sudah bisa memperoleh uang dari internet melalui Blog mereka. Dan bahkan penghasilan mereka sudah mencapai ribuan dolar.

Intinya sebenarnya satu, kita punya Blog yang kita update teratur, 2 - 3 kali seminggu sekurangnya. Dan usia blog itu minimal 60 - 90 hari. Kemudian kita harus meningkatkan Google PageRank kita. Semakin tinggi PageRank kita, semakin besar kemungkinan Blog kita muncul di halaman hasil search Google tentang suatu Keyword atau Kata Kunci yang relevan. Bagaimana meningkatkan PageRank? Perbanyak Backlink! Apa itu Backlink? Backlink adalah link ke website kita yang dipasang oleh orang lain di website mereka.

Kira - kira begitu garis besarnya. Nanti kapan - kapan saya akan posting lagi tentang hal - hal yang berkait usaha saya untuk mendapat penghasilan dari internet. Oya, mampir ya ke website saya yang baru!

Ucapan Tanpa Kasih

September 4th, 2007 by givshand

        “Tetapi, jika ku tak punya Kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang.” Kuambil baris itu dari sebuah lagu yang pernah kunyanyikan pada saat mengiringi satu pemberkatan perkawinan di gerejaku. Cukup banyak lagu tentang kasih yang ada di luar sana. Tapi lagu yang satu itu termasuk salah satu lagu kesenanganku.

        Belum lama ini. Ada satu kejadian yang membuatku berpikir sedikit lebih dalam tentang Kasih. Awalnya, aku dan beberapa rekan sedang bersiap – siap untuk mengiringi satu upacara pemberkatan perkawinan. Upacara sudah hampir dimulai, walaupun agak sedikit terlambat dari yang dijadwalkan. Pengantin pria dan wanita sudah bersiap – siap di pintu masuk gereja. Cuma entah mengapa, Pastur tidak juga keluar dari Sakristi, menuju ke depan altar untuk menyambut mereka. Mengingat ini baru pertama kalinya aku bertugas di gereja yang terletak di utara Jakarta itu, aku berpikir, mungkin memang kebiasaan di tempat itu berbeda dibandingkan dengan di beberapa gereja lain yang pernah aku datangi. Oleh karena itu aku memilih menunggu, walau dengan sedikit rasa bingung bercampur curiga. Jangan – jangan, Event Organizer ataupun Panitia yang membantu mengkoordinir jalannya upacara tersebut, lupa memberitahu Pastur bahwa pengantin pria dan wanita sudah menunggunya di depan pintu masuk gereja. Ternyata, bukan cuma aku yang berpikir demikian. Salah seorang rekanku rupanya tidak bisa menahan diri untuk memanggil salah seorang EO / Panitia yang kebetulan berdiri di dekat kami, untuk memberitahukan bahwa mereka, sepertinya, lupa memberitahu Pastur bahwa ia sudah ditunggu pasangan pengantin di muka pintu masuk gereja. Namun dengan nada sedikit tajam campur sedikit tidak sabar (menurut yang kutangkap tentunya) Panitia itu berkata bahwa itu urusannya dan rekanku tidak usah ikut campur. Kemudian Panitia itu meninggalkan kami. Melihat hal itu, salah seorang rekanku yang lain berkata dengan nada yang tajam juga, “Biar saja, orang yang berkata begitu adalah orang yang tidak punya Kasih!”

        Singkat kata, terlepas dari sedikit ‘insiden’ di awal upacara itu, keseluruhan acara berjalan lancar. Namun, hal itu membuatku berpikir. Apakah dengan mengatakan bahwa orang lain tidak punya Kasih, hal itu berarti kita sendiri memilikinya? Apakah bukan berarti dengan berkata demikian, secara tidak langsung kita sudah menghakimi orang lain? Atau bahkan, mungkin, di dalam hati kecil kita, kita menganggap bahwa kita yang merasa mempunyai Kasih, lebih baik dari mereka yang kita anggap tidak memilikinya? Apakah atas dasar kejadian itu, kita boleh semata – mata mengatakan bahwa seseorang tidak mempunyai Kasih, sementara yang lain mempunyainya?

        Kala orang lain melakukan sesuatu yang tidak kita sukai, kita lebih cenderung untuk menghakimi daripada memahami. Memang lebih mudah untuk mengasihi orang yang juga mengasihi kita. Tapi mengasihi orang yang tidak kita sukai, atau bahkan memusuhi kita, jauh lebih sulit untuk dilakukan. Sulit memang, tapi bukan tidak mungkin. Tentunya, semua itu berawal dari keinginan kita untuk benar – benar bisa memiliki dan mengamalkan Kasih. Kita tidak dapat mengubah orang lain, tapi kita dapat mengubah diri kita sendiri. Bagaimana caranya? “Lihat segalanya lebih dekat. Dan kau akan mengerti,” seperti dinyanyikan Sherina Munaf pada sebuah film musikalnya. Berhentilah menghakimi, dan mulailah memahami. Mudah – mudahan dengan demikian, kita dapat membantu diri kita sendiri, orang lain, dan bahkan dunia tempat kita tinggal ini menjadi dunia yang penuh Kasih.

"Affection is responsible for nine-tenths of whatever solid and durable happiness there is in our lives."

C.S. Lewis

Tiada Lagi Mimpi

December 19th, 2006 by givshand

Malam makin larut, kudengar sayup - sayup tetanggaku menelepon di teras seberang rumahku.. Kucoba mendengar apa yang ia katakan, satu kata, dua kata, ketika kata menjadi kalimat, kutemui diriku tak lagi begitu tertarik akan hal tersebut.. Huh, diriku tak pernah bisa kumengerti.. Kuingat akan satu masa, ketika diri masih penuh akan asa… Hah, kuingat ketika masih muda dan ambisius, penuh semangat menggebu - gebu.. Bodoh, seberapa tua memang diriku kini? Yah relatif, memang.. Kalau dengan ukuran standard bumi, mungkin tidak terlalu tua kiranya… Entah mengapa, tapi jiwaku seakan sudah terlalu lama berada di bumi ini.. Aku mulai bosan, bosan dengan semuanya.. Kadang muak terasa, saking muaknya aku mulai mati rasa.. Atau iya? Apa yang bisa kukata, mimpi pun aku sudah tidak punya.. Yah punya juga kali ya? Tapi aku tak peduli lagi pada mimpi.. Hobi? Entah kenapa, semua hobiku yang dahulu terasa begitu banyak dan beraneka ragam, sekarang?? Nihil, nol, zip.. So what? Bahkan memenuhi semua mimpiku pun tak terasa menarik lagi sekarang.. Sinar matahari pun tak lagi terasa hangat… Dunia seakan semakin kelabu… Tanpa warna, tanpa rasa… Ah mungkin ini pengaruh obat2 yang kuminum kemarin.. Sungguh! Aku benci obat2 itu.. Untung sudah tidak perlu kumakan lagi, mereka membuatku muak.. Ah, aku mudah muak belakangan ini.. Pengaruh akhir tahun? Ah itu omong kosong.. Mungkin aku hanya butuh libur.. Yah, mungkin saja, toh tetap tidak terlaksana… Mereka semua hanya mau meraup untung sebanyak - banyaknya, nyatanya mereka tidak peduli.. Biarlah, toh aku juga tidak peduli.. Tidak sekali - kali aku bermimpi mereka akan peduli, itu hanya impian di siang bolong, begitu katanya.. Ah sudahlah, mungkin lebih baik aku pergi tidur……. Sayang, tidur begitu cepat berlalu…………………….

Catalyst of Change

September 25th, 2006 by givshand

The night is very quiet, as usual. I never consider myself as a quiet person. But nevertheless at time such as this when the world is void of most sound, I found myself… At least more often than not.. This is the time to be with myself, where I can reflect upon things that happened during the day…

Right now, as I’m typing here, I thought about how it feels like a long time ago since I last wrote something seriously.. By serious, I meant something that need a certain degree of ‘daydreaming’.. That’s putting it simply though, I’m not really in the mood of explaining things… As of late, I found myself explaining things less.. I guess I don’t really need to explain myself much anymore.. Yeah then why I need to wrote this in the first place? I’ll leave this for now.. Though knowing me, it could mean that I’ll probably never discuss it again, ever… Perhaps…

Time is running short, and I still have something to do… But before then, I need to make some change to this blog.. The title doesn’t quite reflect me anymore, so here I changed it to something more ‘obscure’, some people might say.. But there, in the Unknown, lies the answer… Right now I only saw glimpses of it, but I hope I can find it someday…

Know Thy Enemy

June 17th, 2005 by givshand

What a phrase!
  Worthy of praise…
    Tell it to my face!
      How it’s hard to do in my case…

I have always been a hard person to get along. Even when every fraction of a second is spent alongside me. Each passing minute is a battle to defeat my other selves. Every maneuver thwarted.. Every effort rendered useless… This is not a battle that I can easily win. This might not be a war in which victory is an option! But even then, sometimes me proved to be my most stalwart ally. And in the end, I hope I can understand… Thank you self….

Jakarta,
June 18th, 2005

Introductory

June 14th, 2005 by givshand

Sometimes, the biggest wonder of life can be seen if only you would take time to turn your sight to your side.. At other times, we have to take it longer.. But ofttimes we did not even have the time to turn our heads..

Amongst the turmoil in our hectic everyday lives I sometimes wonder, where does the heart goes yonder?

People’s change. Sometimes it was for the best, and sometimes it was the opposite.. But it is true that opposites attract each other…. Is it? The longer I travel down my pathway of life, simplicity just simply turn into…. unsimpleness… Pardon the language there…

But again, here I am at another crossroads of life.. Taking a time to sit down…inhale…exhale… Word by word…. Letter by letter…. No, this isn’t a very good opening song… I haven’t been a good composer too lately… This has been a hard composition to sing… But in the end, perhaps I’ll just have to put another ‘Coda’….. And then I feel it again, saying….. Do or do not….There is no try…

Jakarta, June 15th, 2005