Ucapan Tanpa Kasih
“Tetapi, jika ku tak punya Kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang.” Kuambil baris itu dari sebuah lagu yang pernah kunyanyikan pada saat mengiringi satu pemberkatan perkawinan di gerejaku. Cukup banyak lagu tentang kasih yang ada di luar sana. Tapi lagu yang satu itu termasuk salah satu lagu kesenanganku.
Belum lama ini. Ada satu kejadian yang membuatku berpikir sedikit lebih dalam tentang Kasih. Awalnya, aku dan beberapa rekan sedang bersiap – siap untuk mengiringi satu upacara pemberkatan perkawinan. Upacara sudah hampir dimulai, walaupun agak sedikit terlambat dari yang dijadwalkan. Pengantin pria dan wanita sudah bersiap – siap di pintu masuk gereja. Cuma entah mengapa, Pastur tidak juga keluar dari Sakristi, menuju ke depan altar untuk menyambut mereka. Mengingat ini baru pertama kalinya aku bertugas di gereja yang terletak di utara Jakarta itu, aku berpikir, mungkin memang kebiasaan di tempat itu berbeda dibandingkan dengan di beberapa gereja lain yang pernah aku datangi. Oleh karena itu aku memilih menunggu, walau dengan sedikit rasa bingung bercampur curiga. Jangan – jangan, Event Organizer ataupun Panitia yang membantu mengkoordinir jalannya upacara tersebut, lupa memberitahu Pastur bahwa pengantin pria dan wanita sudah menunggunya di depan pintu masuk gereja. Ternyata, bukan cuma aku yang berpikir demikian. Salah seorang rekanku rupanya tidak bisa menahan diri untuk memanggil salah seorang EO / Panitia yang kebetulan berdiri di dekat kami, untuk memberitahukan bahwa mereka, sepertinya, lupa memberitahu Pastur bahwa ia sudah ditunggu pasangan pengantin di muka pintu masuk gereja. Namun dengan nada sedikit tajam campur sedikit tidak sabar (menurut yang kutangkap tentunya) Panitia itu berkata bahwa itu urusannya dan rekanku tidak usah ikut campur. Kemudian Panitia itu meninggalkan kami. Melihat hal itu, salah seorang rekanku yang lain berkata dengan nada yang tajam juga, “Biar saja, orang yang berkata begitu adalah orang yang tidak punya Kasih!”
Singkat kata, terlepas dari sedikit ‘insiden’ di awal upacara itu, keseluruhan acara berjalan lancar. Namun, hal itu membuatku berpikir. Apakah dengan mengatakan bahwa orang lain tidak punya Kasih, hal itu berarti kita sendiri memilikinya? Apakah bukan berarti dengan berkata demikian, secara tidak langsung kita sudah menghakimi orang lain? Atau bahkan, mungkin, di dalam hati kecil kita, kita menganggap bahwa kita yang merasa mempunyai Kasih, lebih baik dari mereka yang kita anggap tidak memilikinya? Apakah atas dasar kejadian itu, kita boleh semata – mata mengatakan bahwa seseorang tidak mempunyai Kasih, sementara yang lain mempunyainya?
Kala orang lain melakukan sesuatu yang tidak kita sukai, kita lebih cenderung untuk menghakimi daripada memahami. Memang lebih mudah untuk mengasihi orang yang juga mengasihi kita. Tapi mengasihi orang yang tidak kita sukai, atau bahkan memusuhi kita, jauh lebih sulit untuk dilakukan. Sulit memang, tapi bukan tidak mungkin. Tentunya, semua itu berawal dari keinginan kita untuk benar – benar bisa memiliki dan mengamalkan Kasih. Kita tidak dapat mengubah orang lain, tapi kita dapat mengubah diri kita sendiri. Bagaimana caranya? “Lihat segalanya lebih dekat. Dan kau akan mengerti,” seperti dinyanyikan Sherina Munaf pada sebuah film musikalnya. Berhentilah menghakimi, dan mulailah memahami. Mudah – mudahan dengan demikian, kita dapat membantu diri kita sendiri, orang lain, dan bahkan dunia tempat kita tinggal ini menjadi dunia yang penuh Kasih.
"Affection is responsible for nine-tenths of whatever solid and durable happiness there is in our lives."
C.S. Lewis